Selasa, 26 Agustus 2008

Konsep Subnetting IP Address

Konsep Subnetting IP Address Untuk Effisiensi Internet

Aulia K. Arif & Onno W. Purbo
Computer Network Research Group ITB

Jumlah IP Address sangat terbatas, apalagi jika harus memberikan alamat semua host di Internet. Oleh karena itu, perlu dilakukan efisiensi dalam penggunaan IP Address supaya dapat mengalamati semaksimal mungkin host yang ada dalam satu jaringan. Konsep subnetting dari IP Address merupakan teknik yang umum digunakan di Internet untuk mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan IP Address. Routing & konsekuensi logis lainnya akan terjadi dengan lebih effisien dengan metoda subnetting yang baik. Tulisan ini akan menyorot secara seksama konsep / cara melakukan subnetting pada IP Address.

Pendahuluan

Untuk beberapa alasan yang menyangkut efisiensi IP Address, mengatasi masalah topologi network dan organisasi, network administrator biasanya melakukan subnetting. Esensi dari subnetting adalah “memindahkan” garis pemisah antara bagian network dan bagian host dari suatu IP Address. Beberapa bit dari bagian host dialokasikan menjadi bit tambahan pada bagian network. Address satu network menurut struktur baku dipecah menjadi beberapa subnetwork. Cara ini menciptakan sejumlah network tambahan dengan mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut.

Tujuan lain dari subnetting yang tidak kalah pentingnya adalah untuk mengurangi tingkat congesti dalam suatu network. Perhatikan bahwa pengertian satu network secara logika adalah host-host yang tersambung pada suatu jaringan fisik. Misalkan pada suatu LAN dengan topologi bus, maka anggota suatu network secara logika haruslah host yang tersambung pada bus tersebut. Jika menggunakan hub untuk topologi star, maka keseluruhan network adalah semua host yang terhubung dalam hub yang sama. Bayangkan jika network kelas B hanya dijadikan satu network secara logika, maka seluruh host yang jumlahnya dapat mencapai puluhan ribu itu akan “berbicara” pada media yang sama. Jika kita perhatikan ilustrasi pada Gambar 1, hal ini sama dengan ratusan orang berada pada suatu ruangan. Jika ada banyak orang yang berbicara pada saat bersamaan, maka pendengaran kita terhadap seorang pembicara akan terganggu oleh pembicara lainnya. Akibatnya, kita bisa salah menangkap isi pembicaraan, atau bahkan sama sekali tidak bisa mendengarnya. Artinya tingkat kongesti dalam jaringan yang besar akan sangat tinggi, karena probabilitas “tabrakan” pembicaraan bertambah tinggi jika jumlah yang berbicara bertambah banyak.

Gambar 1. Satu Physical Network dengan Host yang Sangat Banyak
Untuk menghindari terjadinya kongesti akibat terlalu banyak host dalam suatu physical network, dilakukan segmentasi jaringan. Misalkan suatu perusahaan yang terdiri dari 4 departemen ingin memiliki LAN yang dapat mengintegrasikan seluruh departemen. Masing-masing departemen memiliki Server sendiri-sendiri (bisa berupa Novell Server, Windows NT atau UNIX). Cara yang sederhana adalah membuat topologi network perusahaan tersebut ditampilkan pada Gambar 2. Kita membuat 5 buah physical network (sekaligus logical network), yakni 4 buah pada masing-masing departemen, dan satu buah lagi sebagai jaringan backbone antar departemen. Dengan kata lain, kita membuat beberapa subnetwork (melakukan subnetting). Keseluruhan komputer tetap dapat saling berhubungan karena Server juga berfungsi sebagai router. Pada server terdapat dua network interface, masing-masing tersambung ke jaringan backbone dan jaringan departemennya sendiri

Gambar 2. Subnetting secara Fisik
Subnetting juga dilakukan untuk mengatasi perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan dalam suatu network. Router IP dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang berbeda hanya jika setiap network memiliki address network yang unik. Selain itu, dengan subnetting, seorang network administrator dapat mendelegasikan alokasi IP address untuk host di seluruh departemen dari suatu perusahaan besar kepada setiap departemen, untuk memudahkannya dalam mengatur keseluruhan network. Setelah membuat subnet secara fisik, kita juga harus membuat subnet logic. Masing-masing subnet fisik setiap departemen harus mendapat subnet logic yang berbeda, berupa network address yang merupakan bagian (sub) dari network address perusahaan.
Suatu subnet didefinisikan dengan mengimplementasikan masking bit (subnet mask) kepada IP Address. Struktur subnet mask sama dengan struktur IP Address, yakni terdiri dari 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Bentuk subnet mask adalah urutan bit 1, diikuti bit 0. Jumlah bit 1 menentukan tingkat subnet mask. Tabel berikut memberikan beberapa contoh harga subnet mask.

No
Subnet Mask (Biner)
Desimal
Hexa
Tingkat
1
11111111.11111111.00000000.00000000
255.255.0.0
FF.FF.00.00
16 bit
2
11111111.11111111.11111111.00000000
255.255.255.0
FF.FF.FF.00
24 bit
3
11111111.11111111.11111111.10000000
255.255.255.128
FF.FF.FF.80
25 bit
4
11111111.11111111.11111111.11000000
255.255.255.192
FF.FF.FF.C0
26 bit
5
11111111.11111111.11111111.11100000
255.255.255.224
FF.FF.FF.E0
27 bit
Tabel 1. Contoh Subnet Mask
Bit 1 pada subnet mask berarti mengaktifkan masking (on), sedangkan bit 0 tidak aktif (off). Bit-bit dari IP Address yang “ditutupi” oleh bit-bit subnet mask yang aktif dan bersesuaian akan diinterpretasikan sebagai bit network. Sebagai contoh kita ambil satu IP Address kelas A dengan nomor 44.132.1.20. Dengan aturan standard, nomor network IP Address ini adalah 44 dan nomor host adalah 132.1.20. Network addressnya adalah 44.0.0.0 dan broadcast addressnya 44.255.255.255. Network tersebut dapat menampung maksimum lebih dari 16 juta host yang terhubung langsung. Misalkan pada address ini akan dikenakan subnet mask sebanyak 16 bit (desimal = 255.255.0.0, hexa = FF.FF.00.00 atau biner = 11111111.11111111.00000000.00000000). Perhatikan bahwa pada 16 bit pertama dari subnet mask tersebut berharga 1, sedangkan 16 bit berikutnya 0. Dengan demikian, 16 bit pertama dari suatu IP Address yang dikenakan subnet mask tersebut akan dianggap sebagai bit network. Nomor network akan berubah menjadi 44.132 dan nomor host menjadi 1.20. Kapasitas maksimum host yang langsung terhubung pada network menjadi sekitar 65 ribu host. Perhatikan Gambar 3 berikut.

Gambar 3. Subnetting 16 bit untuk Kelas A
Subnetmask di atas identik dengan standard IP Address kelas B. Dengan menerapkan subnet mask tersebut pada satu network kelas A, dapat dibuat 256 subnetwork baru (44.1.xxx.xxx, 44.2.xxx.xxx, 44.3.xxx.xxx dst. sampai 44.255.xxx.xxx) dengan kapasitas masing-masing subnet setara dengan satu network kelas B. Network address dan broadcast address untuk setiap network berubah, karena komposisi bit-bit host dan bit-bit network juga berubah. Penerapan subnet yang lebih jauh, misalnya 24 bit (255.255.255.0 atau FF.FF.FF.00) pada kelas A akan menghasilkan 2562 network (lebih dari 65 ribu network) setara kelas C dengan kapasitas masing-masing subnet sebesar 256 host. Network kelas A, B atau C juga dapat dibagi-bagi lagi menjadi beberapa subnet dengan menerapkan subnet mask yang lebih tinggi seperti 25 bit, 26 bit atau 27 bit dst. Jangan lupa bahwa setiap melakukan subnetting, maka network address dan broadcast address akan berubah.
Gambar 4. Subnetting 27 bit untuk Kelas A

Sebagai penutup, kita akan membahas contoh kasus (sebenarnya merupakan “true story”) dari alokasi IP Address untuk penerapan di LAN. NIC telah mendelegasikan pemakaian satu network kelas B dengan nomor 167.205.xxx.xxx untuk untuk dipakai di ITB, dibawah koordinator Onno W Purbo. Langkah selanjutnya, IP Address tersebut di distribusikan kepada pihak-pihak yang ingin bergabung ke Internet melalui gateway Internet di ITB. Untuk jurusan maupun instansi yang mempunyai beberapa LAN, diberikan satu subnet setara kelas C. Jadi, contoh alokasinya sebagai berikut :

167.205.0.xxx Reserved
167.205.1.xxx Jurusan A
167.205.2.xxx Jurusan B, dst.

Misalnya, jurusan Teknik Elektro ITB mendapat alokasi subnet 167.205.7.xxx. (256 buah nomor IP Address). Dengan pendelegasian ini, maka IP Address 167.205.7.xxx tidak bisa dipakai lagi oleh instansi manapun, selain di lingkungan Jurusan Elektro. Penggunaan IP Address 167.205.7.xxx ini pun dikoordinasi oleh seorang kordinator lokal. Dengan demikian, koordinator utama tidak lagi ikut mengatur pemakaian subnet ini. Selanjutnya, koordinator IP Address di jurusan Elektro membuat subnet lagi yang lebih kecil, karena terdapat beberapa Laboratorium yang memiliki LAN di lingkungan Jurusan. Pertimbangan pembagian ini adalah berapa jumlah LAN yang ada dan berapa jumlah komputer pada setiap LAN serta prediksi jumlah tersebut dalam beberapa tahun mendatang.
Setelah didapat data mengenai jumlah komputer, konfigurasi subnetmask yang sesuai dapat segera dicari. Untuk subnet 167.205.7.xxx, kita memiliki 24 bit network yang sudah tetap dan 8 bit host (pada segmen terakhir) sebagai variabel. Sekarang mari kita pandang segmen terakhir ini sebagai bilangan biner, sehingga penulisannya menjadi 167.205.7.hhhhhhhh (h=bit untuk host). Untuk membuat subnet yang lebih kecil dari subnet 167.205.7.hhhhhhhh ini, beberapa bit pertama dari 8 bit host ini harus diambil sebagai bit network, sisanya tetap sebagai bit host. Beberapa alternatif untuk menentukan tingkat subnetting yang akan digunakan adalah :

No
Komposisi
Tinjauan 8 bit terakhir
Tinjauan keseluruhan 32 bit
1
hhhhhhhh
seluruh bit tetap menjadi bit host (bit network=0, bit host=8). Kita hanya memiliki 1 buah (20) subnetwork yang berkapasitas 256 host (28).
Bit network = 24 dan bit host = 8. Tingkat masking adalah 24 bit (netmask 255.255.255.0)
2
nhhhhhhh
bit network=1, bit host=7. Kita memiliki 2 buah (21) subnetwork yang berkapasitas 128 host (27)
Bit network = 25 dan bit host = 7. Tingkat masking adalah 25 bit (netmask 255.255.255.128)
3
nnhhhhhh
bit network=2, bit host=6. Kita memiliki 4 buah (22) subnetwork yang berkapasitas 64 host (26)
Bit network = 26 dan bit host = 6. Tingkat masking adalah 26 bit (netmask 255.255.255.192)
4
nnnhhhhh
bit network=3, bit host=5. Kita memiliki 8 buah (23) subnetwork yang berkapasitas 32 host (25)
Bit network = 27 dan bit host = 5. Tingkat masking adalah 27 bit (netmask 255.255.255.224)
5
nnnnhhhh
bit network=4, bit host=4. Kita memiliki 16 buah (24) subnetwork yang berkapasitas 16 host (24)
Bit network = 28 dan bit host = 4. Tingkat masking adalah 28 bit (netmask 255.255.255.240)
Tabel 2. Beberapa Alternatif Tingkatan Subnetting
Diperkirakan, jumlah komputer maksimum yang tersambung di dalam setiap LAN tidak akan melebihi 30 buah. Oleh karena itu, pemilihan subnetmask yang tepat untuk ini adalah 27 bit (255.255.255.224 atau FF.FF.FF.E0), yang berarti jumlah bit host adalah 5. Maka, subnet 167.205.7.xxx tadi dipecah menjadi 8 buah subnet baru yang lebih kecil. Setiap subnet baru terdiri dari 32 IP Address. Namun demikian, yang dapat dipakai oleh host pada subnet tersebut adalah 30 buah. Ingat bahwa address paling awal dalam setiap subnet (seluruh bit host bernilai 0) diambil sebagai network address dan address paling akhir (seluruh bit host bernilai 1) sebagai broadcast address. P________________t dilihat pada Tabel 3.

Subnet
Struktur IP Address
Network Address
Broadcast Address
Subnet 1
(167.205.7).000hhhhh
167.205.7.0
167.205.7.31
Subnet 2
(167.205.7).001hhhhh
167.205.7.32
167.205.7.63
Subnet 3
(167.205.7).010hhhhh
167.205.7.64
167.205.7.95
Subnet 4
(167.205.7).011hhhhh
167.205.7.96
167.205.7.127
Subnet 5
(167.205.7).100hhhhh
167.205.7.128
167.205.7.159
Subnet 6
(167.205.7).101hhhhh
167.205.7.160
167.205.7.191
Subnet 7
(167.205.7).110hhhhh
167.205.7.192
167.205.7.223
Subnet 8
(167.205.7).111hhhhh
167.205.7.224
167.205.7.255
Tabel 3. Pembagian Net 167.205.7.xxx menjadi 8 buah Subnet
Setelah mendapatkan angka-angka di atas, pendelegasian IP address dapat dilakukan. Contoh pembagiannya adalah sebagai berikut :

· subnet 1 (167.205.7.0) untuk LAN pada Tata Usaha
· subnet 2 (167.205.7.32) untuk LAN pada Laboratorium B
· subnet 3 (167.205.7.64) untuk LAN pada Laboratorium C, dst.

Jika jumlah 30 host dalam satu subnet juga masih terlalu besar, kita dapat menggunakan masking 28 bit, yang berkapasitas 16 buah IP Address dalam setiap subnet (jumlah host maksimum 14 buah). Hal ini dilakukan untuk efisiensi IP Address, terutama jika jumlah yang kita miliki sangat terbatas. Perhatikan bahwa jika kita hanya memiliki 10 buah komputer pada LAN yang berkapasitas 30 host (penerapan masking 27 bit), maka 20 IP address lainnya yang belum/tidak terpakai tidak dapat dipakai pada LAN lain, karena akan mengacaukan jalannya routing.

Penutup.

Pemberian subnet ini dilakukan pada saat meng-konfigurasi interface yang menghubungkan router / host ke jaringan. Perintah yang digunakan akan beragam sekali tergantung pada jenis komputer / sistem operasi / router yang digunakan.
Jika subnet telah di set dengan baik, selanjutnya kita tinggal menjalankan protokol routing yang ada di TCP/IP untuk dapat menjalankan jaringan dengan routing yang otomatis. Beberapa routing protokol terdapat di jaringan TCP/IP seperti RIP (Routing Information Protocol) pada pada suatu autonomous system.
Jika IP Address untuk seluruh LAN yang terintegrasi telah di desain dengan benar dan routing protocol dijalakan dengan baik maka yang akan terjadi adalah dynamic routing dimana jaringan dapat secara otomatis mengkonfigurasi routing & topologinya sendiri secara otomatis. Artinya jika ada jaringan / host baru yang masuk ke dalam jaringan kita; secara otomatis jaringan akan dapat mengidentifikasi & melakukan routing ke host / network tersebut. Konsep-konsep routing secara otomatis baru dapat jalan dengan lancar jika kita memahami secara betul-betul konsep subnetting.

Pengantar WLAN

Pengantar Wireless-LAN 2.4GHz
Contributed by Muhammad Firdaus
Wednesday, 12 April 2006
Wireless LAN yang biasa disingkat WLAN menjadi teknologi alternatif dan relatif murah untuk diimplementasikan di
Indonesia, kondisi ini terjadi karena mahalnya infrastruktur kabel telepon dan masih dikuasai oleh satu lembaga.
Teknologi WLAN yang menjadi pertimbangan adalah perangkat yang bekerja di frekuensi 2.4GHz atau disebut sebagai
pita frekuensi ISM (Industrial, Scientific and Medical). Frekuensi ini secara internasional dibebaskan atau unregulated,
terkecuali di Indonesia saat ini sedang dibuat aturannya. Semoga saja tidak menyimpang jauh dari aturan
internasionalnya sendiri.
1. Teknologi Dasar Fungsi utama dari Wireless LAN adalah untuk menjangkau wilayah LAN yang sulit dicapai dengan
kabel tembaga biasa (copper wire), juga untuk menjangkau pengguna bergerak (mobile-users). Ada empat komponen
utama dalam membangun jaringan WLAN ini: Access Point, merupakan perangkat yang menjadi sentral koneksi dari
klien ke ISP, atau dari kantor cabang ke kantor pusat jika jaringannya adalah milik sebuah perusahaan. Access-Point
berfungsi mengkonversikan sinyal frekuensi radio (RF) menjadi sinyal digital yang akan disalurkan melalui kabel, atau
disalurkan ke perangkat WLAN yang lain dengan dikonversikan ulang menjadi sinyal frekuensi radio. Wireless LAN
Interface, merupakan device yang dipasang di Access-Point atau di Mobile/Desktop PC, device yang dikembangkan
secara massal adalah dalam bentuk PCMCIA (Personal Computer Memory Card International Association) card. Wired
LAN, merupakan jaringan kabel yang sudah ada, jika Wired LAN tidak ada maka hanya sesama WLAN saling terkoneksi.
Mobile/Desktop PC, merupakan perangkat akses untuk klien, mobile PC pada umumnya sudah terpasang port PCMCIA
sedangkan desktop PC harus ditambahkan PC Card PCMCIA dalam bentuk ISA (Industry Standard Architecture) atau
PCI (Peripheral Component Interconnect) card. Secara relatif perangkat Access-Point ini mampu menampung beberapa
sampai ratusan klien secara bersamaan. Beberapa vendor hanya merekomendasikan belasan sampai sekitar 40-an
klien untuk satu Access Point. Meskipun secara teorinya perangkat ini bisa menampung banyak namun akan terjadi
kinerja yang menurun karena faktor sinyal RF itu sendiri dan kekuatan sistem operasi Access Point. Saat ini sistem
operasi Access Point dikembangkan dengan dasar prosesor i486 dan RAM 4-8MB. Komponen logik dari Access Point
adalah ESSID (Extended Service Set IDentification) yang merupakan standar dari IEEE 802.11. Klien harus
mengkoneksikan PCMCIA cardnya ke Access Point dengan ESSID tertentu supaya transfer data bisa terjadi. ESSID
menjadi autentifikasi standar dalam komunikasi wireless. Dalam segi keamanan beberapa vendor tertentu membuat
kunci autentifikasi tertentu untuk proses autentifikasi dari klien ke Access Point. Rawannya segi keamanan ini membuat
IEEE mengeluarkan standarisasi Wireless Encryption Protocol (WEP), sebuah aplikasi yang sudah ada dalam setiap
PCMCIA card. WEP ini berfungsi meng-encrypt data sebelum ditransfer ke sinyal RF, dan men-decrypt kembali data dari
sinyal RF. Enkripsi yang umum dipakai adalah sebesar 40bit dan ada beberapa vendor tertentu yang mengeluarkan
WEP sampai 128bit. 2. Spread Spectrum Bagaimana data bisa bergerak di udara? Wireless LAN mentransfer data
melalui udara dengan menggunakan gelombang elektromagnetik dengan teknologi yang dipakai adalah Spread-
Sprectum Technology (SST). Dengan teknologi ini memungkinkan beberapa user menggunakan pita frekuensi yang
sama secara bersamaan. SST ini merupakan salah satu pengembangan teknologi Code Division Multiple Access
(CDMA). Dengan urutan kode (code sequence) yang unik data ditransfer ke udara dan diterima oleh tujuan yang berhak
dengan kode tersebut. Dengan teknologi Time Division Multiple Access (TDMA) juga bisa diaplikasikan (data ditransfer
karena perbedaan urutan waktu/time sequence). Dalam teknologi SST ada dua pendekatan yang dipakai yaitu: Direct
Sequence Spread Spectrum (DSSS), sinyal ditranfer dalam pita frekuensi tertentu yang tetap sebesar 17MHz. Prinsip
dari metoda direct sequence adalah memancarkan sinyal dalam pita yang lebar (17MHz) dengan pemakaian pelapisan
(multiplex) kode/signature untuk mengurangi interferensi dan noise. Untuk perangkat wireless yang bisa bekerja sampai
11Mbps membutuhkan pita frekuensi yang lebih lebar sampai 22MHz. Pada saat sinyal dipancarkan setiap paket data
diberi kode yang unik dan berurut untuk sampai di tujuan, di perangkat tujuan semua sinyal terpancar yang diterima
diproses dan difilter sesuai dengan urutan kode yang masuk. Kode yang tidak sesuai akan diabaikan dan kode yang
sesuai akan diproses lebih lanjut. Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS), sinyal ditransfer secara bergantian
dengan menggunakan 1MHz atau lebih dalam rentang sebuah pita frekuensi tertentu yang tetap. Prinsip dari metoda
frequency hopping adalah menggunakan pita yang sempit yang bergantian dalam memancarkan sinyal radio. Secara
periodik antara 20 sampai dengan 400ms (milidetik) sinyal berpindah dari kanal frekuensi satu ke kanal frekuensi
lainnya. Pita 2.4GHz dibagi-bagi ke dalam beberapa sub bagian yang disebut channel/kanal. Salah satu standar
pembagian kanal ini adalah sistem ETSI (European Telecommunication Standard Institute) dengan membagi kanal
dimulai dengan kanal 1 pada frekuensi 2.412MHz, kanal 2 2.417MHz, kanal 3 2.422MHz dan seterusnya setiap 5MHz
bertambah sampai kanal 13. Dengan teknologi DSSS maka untuk satu perangkat akan bekerja menggunakan 4 kanal
(menghabiskan 20MHz, tepatnya 17MHz). Dalam implementasinya secara normal pada lokasi dan arah yang sama
hanya 3 dari 13 kanal DSSS yang bisa dipakai. Parameter lain yang memungkinkan penggunaan lebih dari 3 kanal ini
adalah penggunaan antena (directional antenna) dan polarisasi antena itu sendiri (horisontal/vertikal). Penggunaan
antena Omni-directional akan membuat sinyal ditransfer ke seluruh arah (360 derajat). Teknologi FHSS ditujukan untuk
menghindari noise/gangguan sinyal pada saat sinyal ditransfer, secara otomatis perangkat FHSS akan memilih frekuensi
tertentu yang lebih baik untuk transfer data. Kondisi ini menjadikan satu keuntungan dibandingkan dengan DSSS.
Teknologi DSSS dan FHSS tidak saling interoperable artinya perangkat DSSS tidak akan bisa melakukan koneksi ke
perangkat FHSS dan sebaliknya. Berikut adalah tabel perbandingan DSSS dengan FHSS: Manakah yang lebih baik?
Pertanyaan ini bisa membuat flame-war tersendiri baik di kalangan vendor pembuat perangkat maupun penggunanya.
Masing-masing akan berargumentasi produknya yang terbaik, dengan kata lain sulit untuk membandingkan teknologi
Team SDD Project Prabumulih (PT Pertamina EP Region Sumatera)
http://www.pertamina-dohsbs.com/test Powered by Joomla! Generated: 26 August, 2008, 11:02
mana yang lebih baik karena implementasi wireless 2.4GHz penuh dengan trik, di mana trik yang telah dikembangkan di
wilayah tertentu belum tentu akan berhasil sempurna diimplementasikan di tempat lain. Vendor wireless dan produknya
yang mengembangkan perangkat spread-spectrum 2.4GHz antara lain: Cisco Systems Aironet 340 Series Lucent
Technologies Orinoco 3Com AirConnect Apple Computer AirPort BreezeCOM BreezeACCESS, BreezeNET PRO 11,
and BreezeNET DS.11 Enterasys RoamAbout Intermec Intermec 2101, 2100, and 2102 Nokia A020, A032 Nortel
Networks e-Mobility Proxim Harmony, RangeLAN-DS, RangeLAN2, Symphony, and Stratum Symbol Technologies
Spectrum24 3. Teknologi Alternatif Selain teknologi Spread Spectrum dengan metoda DSSS dan FHSS ada beberapa
teknologi alternatif lainnya yang masih dikembangkan. BlueTooth BlueTooth awalnya dikembangkan untuk
mengkoneksikan laptop, PDA (Personal Digital Assistance) dan Telepon Selular secara wireless. Merupakan generasi
mendatang jaringan peer-to-peer. Spesifikasi awal BlueTooth disiapkan untuk wireless voice dan transmisi data jarak
pendek. HiperLAN 2 High Performance Radio LAN type 2 adalah broadband wireless yang beroperasi di frekuensi 5Ghz
dengan transmisi bisa mencapai 54Mbps. HiperLAN 2 dipromosikan oleh FCC (Federal Communications Commission)
dan ETSI Broadband Radio Access Network (BRAN) dan lebih banyak dikembangkan di Eropa. IEEE 802.11 Standar
IEEE 802.11 mengkhususkan pengembangan teknologi lapisan fisik dan link wireless LAN (lapisan 1 dan 2 OSI). Ada 6
standar yang dipakai: 802.11a, 5GHz dengan teknologi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplex) 802.11b,
DSSS pada lapisan fisik dengan transfer data 5.5 sampai 11Mbps. 802.11d, standar kebutuhan fisik (channel, hopping,
pattern, MIB snmp) 802.11e, pengembangan aplikasi LAN dengan Quality of Service (QoS), keamanan dan autentifikasi
untuk aplikasi seperti suara, streaming media dan konferensi video. 802.11f, rekomendasi praktis untuk Multi-Vendor
Access Point Interoperability melalui Inter-Access Point Protocol Access Distribution System Support. 802.11g, standar
untuk penggunaan DSSS dengan transfer 20Mbps dan OFDM 54Mbps. Standar ini backward-compatible dengan
802.11b dan bisa dikembangkan sampai lebih dari 20Mbps
Team SDD Project Prabumulih (PT Pertamina EP Region Sumatera)
http://www.pertamina-dohsbs.com/test Powered by Joomla! Generated: 26 August, 2008, 11:02
Tips membuat jaringan komputer (LAN/Local Area Network)
(Oct 07, 2007 at 09:51 AM) -

jaringan komputer? emang apa sih jaringan itu? kita sering dengar tapi kadang, yang kita tahu hanya sedikit saja. bisa
kita analogikan seperti jaringan di tubuh kita (jaringan sel). di tubuh kita, setiap perangkat yang ada saling terhubung,
dengan fungsi untuk saling bekerja sama, walaupun setiap perangkatnya memiliki fungsi sendiri-sendiri.
sebuah sistem dikatakan jaringan komputer jika terdapat model komputer tunggal yang melayani seluruh tugas-tugas
komputasi suatu organisasi telah diganti oleh sekumpulan komputer berjumlah banyak yang terpisah-pisah akan tetapi
saling berhubungan dalam melaksanakan tugasnya.

definisi lainnya tentang jaringan komputer adalah Sebuah kumpulan komputer, printer dan peralatan lainnya yang
terhubung dalam satu kesatuan. Informasi dan data bergerak melalui kabel-kabel atau tanpa kabel sehingga
memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data, mencetak pada printer yang
sama dan bersama-sama menggunakan hardware/software yang terhubung dengan jaringan.

Manfaat Jaringan Komputer :

* Resource Sharing, dapat menggunakan sumberdaya yang ada secara bersamasama. Misal seorang pengguna yang
berada 100 km jauhnya dari suatu data, tidak mendapatkan kesulitan dalam menggunakan data tersebut, seolah-olah
data tersebut berada didekatnya. Hal ini sering diartikan bahwa jaringan komputer mangatasi masalah jarak.

* Reliabilitas tinggi, dengan jaringan komputer kita akan mendapatkan reliabilitas yang tinggi dengan memiliki sumbersumber
alternatif persediaan. Misalnya, semua file dapat disimpan atau dicopy ke dua, tiga atau lebih komputer yang
terkoneksi kejaringan. Sehingga bila salah satu mesin rusak, maka salinan di mesin yang lain bisa digunakan.

* Menghemat uang. Komputer berukutan kecil mempunyai rasio harga/kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan
komputer yang besar. Komputer besar seperti mainframe memiliki kecapatan kira-kira sepuluh kali lipat kecepatan
komputer kecil/pribadi. Akan tetapi, harga mainframe seribu kali lebih mahal dari komputer pribadi. Ketidakseimbangan
rasio harga/kinerja dan kecepatan inilah membuat para perancang sistem untuk membangun sistem yang terdiri dari
komputer-komputer pribadi.

Langkah-langkahnya :

Untuk membuat sebuah jaringan komputer kecil (LAN), ada beberapa peralatan dan bahan yang kita butuhkan seperti :

* Tang Cramping

* Lan Tester

* Kabel UTP (Unshielded Twisted Pair) / Coaxial (jarang digunakan)

* Connector RJ45 / connector kabel coaxial

* switch-hub

http://www.itkomputer.com - Kursus komputer Powered by Mambo Generated:26 August, 2008, 11:19
* min 2 buah PC (Personal Computer) beserta LAN Card atau NIC (Network Interface Card)


Lalu kita tentukan susunan kabel UTP yang akan kita gunakan sesuai dengan fungsinya. misalkan kalau kita hendak
menghubungkan langsung dari PC-PC maka kita gunakan CROSS, kalau kia hubungkan ke switch-hub lebih dulu, PCHUB,
maka kita gunakan STRAIGHT. jika kita hendak menghubungkan 2 LAN maka HUB-HUB kita gunakan CROSS,
kita juga bisa gunakan STARIGHT jika pada salah satu HUB terdapat port uplink.

untuk memudahkan dalam menghapal susunan kabel, kita bisa gunakan salah satu cara yang saya pakai, yaitu
STRAIGHT -> OBHC kalau CROSS -> HBOC.

STRAIGHT -> OBHC

O -> putih orange - orange

B -> putih hijau - biru

H -> putih biru - hijau

C -> putih coklat - coklat

CROSS -> HBOC

H -> putih hijau - hijau

B -> putih orange - biru

O -> putih biru - orange

C -> putih coklat - coklat


jika anda memiliki cara yang lain silahkan diterapkan, gak harus seperti diatas. kemudian silahkan setiap ujungnya
diujicoba menggunakan lan tester. kalau lampu menyala sesuai yang diharapkan, maka anda telah berhasil dalam
proses cramping. silahkan dipasang pada lan card PC anda.

untuk mengatur IP maka yang kita pikirkan adalah berapa no group IP yang digunakan pada LAN anda. biasanya untuk
jaringan lokal menggunakan group IP 172.17.X.X, 192.168.X.X 202.168.X.X atau 10.10.X.X. untuk jaringan lokal,
minimal yang diatur adalah :

IP address : 192.168.1.2 (misal)

Subnet mask : 255.255.255.0 (misal)
http://www.itkomputer.com - Kursus komputer Powered by Mambo Generated:26 August, 2008, 11:19

untuk default gateway dapat anda isi jika anda hendak menghubungkan jaringan lokal anda dengan jaringan luar (baik
jaringan lokal lainnya atau internet). untuk DNS server akan anda isi jika anda terhubung dengan internet. DNS server ini
tergantung dengan aturan yang ditetapkan oleh provider, Telkom Speedy, dll.

jika anda sudah mengatur no IP, anda bisa mengecek apakah komputer anda sudah bisa berkomunikasi dengan
komputer lainnya, yaitu dengan cara menjalankan perintah ping pada command, seperti
ping 192.168.1.3
(perintah ini menghasilkan 4 kali respon), agar terus-menerus memberikan respon kita tambahkan atribut -t (trace),
seperti
ping 192.168.1.3 -t

Respon yang diberikan ada 3 macam :

1. reply from....
komputer anda sudah dapat berkomunikasi dengan komputer tujuan anda.

2. request time out....
koneksi jaringan ada masalah dengan komputer tujuan anda.

3. destination unreachable....
koneksi jaringan komputer anda ada masalah.

Ingin mengetahui banyak tentang jaringan, tips dan trik
Keamanan Jaringan,Menggunakan Telnet,Remote komputer Menggunakan VNC dan masih banyak lagi tips menarik
ikuti kursus yang kami berikan semua alat yang dibutuhkan telah kami siapkan




http://www.itkomputer.com - Kursus komputer Powered by Mambo Generated:26 August, 2008, 11:19

Selasa, 19 Agustus 2008

Dasar- dasar routing

Dasar Routing

Routing Lansung dan Tidak Langsung

Seperti telah disebutkansebelumnya, proses pengiriman datagram IP selalu

menggunakan tabel routing. Tabel routing berisi informasi yang diperlukan untuk

menentukan ke mana datagram harus di kirim. Datagram dapat dikirim langsung ke

host tujuan atau harus melalui host lain terlebih dahulu tergantung pada tabel

routing.

Gambar Jaringan TCP/IP

Gambar diatas memperlihatkan jaringan TCP/IP yang menggunakan

teknologi Ethernet. Pada jaringan tersebut host osiris mengirimkan data ke host

seth, alamat tujuan datagram adalah seth dan alamat sumber datagram adalah

osiris. Frame yang dikirimkan oleh host osiris juga memiliki alamat tujuan frame seth

dan alamat sumbernya adalah osiris. Pada saat osiris mengirimkan frame, seth

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

membaca bahwa frame tersebut ditujukan kepada alamat ethernetnya. Setelah

melepas header frame, seth kemudian mengetahui bahwa IP address tujuan

datagram tersebut juga adalah IP addressnya. Dengan demikian set meneruskan

datagram ke lapisan transport untuk diproses lebih lanjut. Komunikasi model seperti

ini disebut sebagai routing langsung.

Gambar Routing langsung

Pada gambar diatas terlihat bahwa osiris dan anubis terletak pada jaringan

Ethernet yang berbeda. Kedua jaringan tersebut dihubungkan oleh khensu. Khensu

memiliki lebih dari satu interface dan dapat melewatkan datagram daari satu

interface ke intreface lain (atau bertindak sebagai router). Ketika mengirimkan data

ke anubis, osiris memeriksa tabel routing dan mengetahui bahwa data tersebut

harus melewati khensu terlebih dahulu. Dengan kondisi seperti ini datagram yang

dikirim osiris ke anubis memiliki alamat tujuan anubis dan alamat sumber osiris

tetapi frame ethernet yang dikirimnya diberi alamat tujuan khensu dan alamat

sumber osiris.

132.96.11.2 132.96.11.3 132.96.11.1

IP Pengirim: 132.96.11.1

Ethernet Address:0:80:48:e3:d2:69

IP Target: 132.96.11.2

Ethernet Address:0:80:ad:17:96:34

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Gambar Routing tak langsung

Ketika osiris mengirimkan frame ke jaringan, khensu membaca bahwa alamat

ethernet yang dituju frame tersebut adalah alamat ethernetnya. Ketika khensu

melepas header frame, diketahui bahwa host yang dituju oleh datagram adalah host

anubis. Khensu kemudian memeriksa tabel routing yang dimilikinya untuk

meneruskan datagram tersebut. Dari hasil pemeriksaan tabel routing, khensu

mengetahui bahwa anubis terletak dalam satu jaringan ethernet dengannya. Dengan

demikian datagram tersebut dapat langsung disampaikan oleh khensu ke anubis.

Pada pengiriman data tersebut, alamat tujuan dan sumber datagram tetap anubis

dan osiris tetapi alamat tujuan dan sumber frame Ethernet menjadi anubis dan

khensu. Komunikasi seperti ini disebut sebagai routing tak langsung karena untuk

mencapai host tujuan, datagram harus melewati host lain yang bertidak sebagai

router.

132.96.11.1 132.96.11.3 132.96.11.2

IP pengirim: 132.96.11.1

Ethernet Address:0:80:48:e3:d2:69

IP target: 132.96.36.5

Ethernet Address:0:20:4c:30:29:29

132.96.36.5 132.96.36.4 132.96.36.6

IP pengirim: 132.96.11.1

Ethernet Address:0:80:48:ea:35:10

IP target: 132.96.36.5

Ethernet Address:0:80:ad:a7:a3:81

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Pada dua kasus diatas terlihat proses yang terjadi pada lapisan internet

ketika mengirimkan dan menerima datagram. Pada saat mengirimkan datagram,

host harus memeriksa apakah alamat tujuan datagram terletak pada jaringan yang

sama atau tidak. Jika lamat tujuan datagram terletak pada jaringan yang sama ,

datagram dapat langsung disampaikan. Jika ternyata alamat tujuan datagram tidak

terletak pada jaringan yang sama, datagram tersebut harus disampaikan melalui

host lain yang bertindak sebagai router. Pada saat menerima datagram host harus

memeriksa apakah ia merukapakan tujuan dari datagram tersebut. Jika memang

demikian maka data diteruskan ke lapisan transport. Jika ia bukan tujuan dari

datagram tersebut, maka datagram tersebut dibuang. Jika host yang menerima

datagram tersebut sebuah router, maka ia meneruskan datagram ke interface yang

menuju alamat tujuan datagram.

Jenis Konfigurasi Routing

Konfigurasi routing secara umum terdiri dari 3 macam yaitu :

Minimal Routing

Dari namanya dapat diketahui bahwa ini adalah konfigurasi yang paling

sederhana tapi mutlak diperlukan. Biasanya minimal routing dipasang pada

network yang terisolasi dari network lain atau dengan kata lain hanya pemakaian

lokal saja.

Static Routing

Konfigurasi routing jenis ini biasanya dibangun dalam network yang hanya

mempunyai beberapa gateway, umumnya tidak lebih dari 2 atau 3. Static routing

dibuat secara manual pada masing-masing gateway. Jenis ini masih

memungkinkan untuk jaringan kecil dan stabil. Stabil dalam arti kata jarang

down. Jaringan yang tidak stabil yang dipasang static routing dapat membuat

kacau seluruh routing, karena tabel routing yang diberikan oleh gateway tidak

benar sehingga paket data yang seharusnya tidak bisa diteruskan masih saja

dicoba sehingga menghabiskan bandwith. Terlebih menyusahkan lagi apabila

network semakin berkembang. Setiap penambahan sebuah router, maka router

yang telah ada sebelumnya harus diberikan tabel routing tambahan secara

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

manual. Jadi jelas, static routing tidak mungkin dipakai untuk jaringan besar,

karena membutuh effort yang besar untuk mengupdatenya.

Dynamic Routing

Dalam sebuah network dimana terdapat jalur routing lebih dari satu rute untuk

mencapat tujuan yang sama biasanya menggunakan dynamic routing. Dan juga

selain itu network besar yang terdapat lebih dari 3 gateway. Dengan dynamic

routing, tinggal menjalankan routing protokol yang dipilih dan biarkan bekerja.

Secara otomatis tabel routing yang terbaru akan didapatkan.

Seperti dua sisi uang, dynamic routing selain menguntungkan juga sedikit

merugikan. Dynamic routing memerlukan routing protokol untuk membuat tabel

routing dan routing protokol ini bisa memakan resource komputer.

Routing Protocol

Protokol routing merupakan aturan yang mempertukarkan informasi routing

yang nantinya akan membentuk tabel routing sedangkan routing adalah aksi

pengiriman-pengiriman paket data berdasarkan tabel routing tadi.

Semua routing protokol bertujuan mencari rute tersingkat untuk mencapai

tujuan. Dan masing-masing protokol mempunyai cara dan metodenya sendirisendiri.

Secara garis besar, routing protokol dibagi menjadi Interior Routing Protocol

dan Exterior Routing Protocol. Keduanya akan diterangkan sebagai berikut :

Interior Routing Protocol

Sesuai namanya, interior berarti bagian dalam. Dan interior routing protocol

digunakan dalam sebuah network yang dinamakan autonomus systems (AS) . AS

dapat diartikan sebagai sebuah network (bisa besar atau pun kecil) yang berada

dalam satu kendali teknik. AS bisa terdiri dari beberapa sub network yang masingmasingnya

mempunyai gateway untuk saling berhubungan. Interior routing protocol

mempunyai beberapa macam implemantasi protokol, yaitu :

RIP (Routing Information Protocol)

Merupakan protokol routing yang paling umum dijumpai karena biasanya

sudah included dalam sebuah sistem operasi, biasanya unix atau novell. RIP

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

memakai metode distance-vector algoritma. Algoritma ini bekerja dengan

menambahkan satu angka metrik kepada ruting apabila melewati satu gateway.

Satu kali data melewati satu gateway maka angka metriknya bertambah satu ( atau

dengan kata lain naik satu hop ). RIP hanya bisa menangani 15 hop, jika lebih maka

host tujuan dianggap tidak dapat dijangkau.

Oleh karena alasan tadi maka RIP tidak mungkin untuk diterapkan di sebuah AS

yang besar. Selain itu RIP juga mempunyai kekurangan dalam hal network masking.

Namun kabar baiknya, implementasi RIP tidak terlalu sulit ika dibandingkan dengan

OSPF yang akan diterangkan berikut ini.

OSPF (Open Shortest Path First)

Merupakan protokol routing yang kompleks dan memakan resource komputer.

Dengan protokol ini, route dapat dapat dibagi menjadi beberapa jalan. Maksudnya

untuk mencapai host tujuan dimungkinkan untuk mecapainya melalui dua atau lebih

rute secara paralel.

Lebih jauh tentang RIP dan OSPF akan diterangkan lebih lanjut.

Exterior Protocol

AS merupakan sebuah network dengan sistem policy yang pegang dalam

satu pusat kendali. Internet terdiri dari ribuan AS yang saling terhubung. Untuk bisa

saling berhubungan antara AS, maka tiap-tiap AS menggunakan exterior protocol

untuk pertukaran informasi routingnya. Informasi routing yang dipertukarkan

bernama reachability information (informasi keterjangkauan). Tidak banyak router

yang menjalankan routing protokol ini. Hanya router utama dari sebuah AS yang

menjalankannya. Dan untuk terhubung ke internet setaip AS harus mempunyai

nomor sendiri. Protokol yang mengimplementasikan exterior :

EGP (Exterior Gateway Protocol)

Protokol ini mengumumkan ke AS lainnya tentang network yang berada di

bawahnya. Pengumumannya kira-kira berbunyi : " Kalau hendak pergi ke AS nomor

sekian dengan nomor network sekian, maka silahkan melewati saya" .

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Router utama menerima routing dari router-router AS yang lain tanpa

mengevaluasinya. Maksudnya, rute untuk ke sebuah AS bisa jadi lebih dari satu rute

dan EGP menerima semuanya tanpa mempertimbangkan rute terbaik.

BGP (Border Gateway Protocol)

BGP sudah mempertimbangkan rute terbaik untuk dipilih. Seperti EGP, BGP juga

mepertukarkan reachability information.

_ IP ROUTING & ROUTING PROTOKOL

Penjelasan

Dalam network sederhana sekali pun, sebuah paket data perlu tahu jalan

yang akan dia tempuh untuk sampai ke tujuan. Untuk mengetahuinya paket data

tadi sudah disertai alamat tujuan pada headernya. Alamat tersebut apabila

memungkinkan untuk dicapai, maka paket tadi akan diteruskan sampai tujuan, jika

tidak paket maka akan dikembalikan.

Informasi routing diperlukan untuk mengetahui apakah tujuan bisa dicapai

atau tidak. Informasi routing tadi bisa didapatkan dengan bermacam-macam

konfigurasi routing. Pemilihan metode konfigurasi tergantung dari banyaknya

gateway yang terdapat dalam network tersebut dan kompleksitasnya.

Konsep routing adalah hal yang utama pada lapisan internet di jaringan

TCP/IP. Hal ini karena pada lapisan internet terjadi pengalamatan (addressing). Kita

coba perhatikan kembali aliran data pada arsitektur TCP/IP. Data dari lapisan

aplikasi disampaikan ke lapisan transport dengan diberi header TCP atau UDP

tergantung jenis aplikasinya. Setelah itu segmen TCP atau UDP disampaikan ke

lapisan IP dan diberi header, termasuk alamat asal dan tujuan datagram. Pada saat

ini host harus melakukan routing dengan melihat tabel routing. Setelah melihat tabel

routing, datagram diteruskan ke lapisan network interface dan diberi header dengan

alamat tujuan yang sesuai.

Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan jaringan TCP/IP yang menggunakan

teknologi Ethernet. Setiap frame ethernet (Ethernet II) mengandung alamat tujuan

dan asal, tipe protokol, dan data. Alamat tujuan dan asal adalah sebuah bilangan 48

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

bit. Setiap card ethernet memiliki alamat ethernet yang unix (MAC address). Agar

datagram dapat diterima oleh sebuah host tujuan, datagram harus dimasukan dalam

frame dengan alamat ethernet tujuan yang sama dengan alamat card ethernet host

tujuan. Proses ini juga bagian dari routing, yaitu pada saat mengirimkan datagram IP

bagaimana menentukan alamat Ethernet host tujuan datagram tersebut?

ARP

Untuk keperluan mapping IP address ke Alamat Ethernet maka di buat

protokol ARP (Address Resolution Protocol). Proses mapping ini dilakukan hanya

untuk datagram yaang dikirim host karena pada saat inilah host menambahkan

header Ethernet pada datagram. Penerjemahan dari IP address ke alamat Ethernet

dilakukan dengan melihat sebuah tabel yang disebut sebagai cache ARP, lihat tabel

Entri cache ARP berisi IP address host beserta alamat Ethernet untuk host

tersebut. Tabel ini diperlukan karena tidak ada hubungan sama sekali antara IP

address dengan alamat Ethernet. IP address suatu host bergantung pada IP

address jaringan tempat host tersebut berada, sementara alamat Ethernet sebuah

card bergantung pada alamat yang diberikan oleh pembuatnya.

Tabel Cache ARP

IP address Alamat Ethernet

132.96.11.1 0:80:48:e3:d2:69

132.96.11.2 0:80:ad:17:96:34

132.96.11.3 0:20:4c:30:29:29

Mekanisme penterjemahan oleh ARP dapat dijelaskan sebagai berikut. Misal

suatu host A dengan IP address 132.96.11.1 baru dinyalakan, lihat Gambar 1. Pada

saat awal, host ini hanya mengetahui informasi mengenai interface-nya sendiri, yaitu

IP address, alamat network, alamat broadcast dan alamat ethernet. Dari informasi

awal ini, host A tidak mengetahui alamat ethernet host lain yang terletak satu

network dengannya (cache ARP hanya berisi satu entri, yaitu host A). Jika host

memiliki route default, maka entri yang pertama kali dicari oleh ARP adalah router

default tersebut.

Misalkan terdapat datagram IP dari host A yang ditujukan kepada host B

yanng memiliki IP 132.96.11.2 (host B ini terletak satu subnet dengan host A). Saat

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

ini yang diketahui oleh host A adalah IP address host B tetapi alamat ethernet B

belum diketahui.

Gambar cache ARP awal

Agar dapat mengirimkan datagram ke host B, host A perlu mengisi cache

ARP dengan entri host B. Karena cache ARP tidak dapat digunakan untuk

menerjemahkan IP address host BB menjadi alamat Ethernet, maka host A harus

melakukan dua hal yaitu :

_ Mengirimkan paket ARP request pada seluruh host di network menggunakan

alamat broadcast Ethernet (FF:FF:FF:FF:FF:FF) untuk meminta jawaban ARP

dari host B, lihat gambar 2.

_ Menempatkan datagram IP yang hendak dikirim dalam antrian.

Paket ARP request yang dikirim host A kira-kira berbunyi “Jika IP address-mu

adalah 132.96.11.2, mohon beritahu alamat Ethernet-mu”. Karena paket ARP

request dikirim ke alamat broadcast Ethernet, setiap interface Ethernet komputer

yang ada dalam satu subnet (jaringan) dapat mendengarnya. Setiap host dalam

jaringan tersebut kemudian memeriksa apakah IP addressnya sama dengan IP

address yang diminta oleh host A.

132.96.11.1

Alamat IP Alamat Ethernet

132.96.11.1 0:80:48:e3:d2:69

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Gambar Paket ARP request

Host B yang mengetahui bahwa yang diminta oleh host A adalah IP address

yang dimilikinya langsung memberikan jawaban dengan mengirimkan paket ARP

response langsung ke alamat ethernet pengirim (host A), seperti terlihat pada

gambar 3. Paket ARP request tersebut kira-kira berbunyi “IP address 132.96.11.2

adalah milik saya, sekarang saya berikan alamat ethernet saya”.

Gambar Paket ARP response

132.96.11.1 132.96.11.3 132.96.11.2

IP Target: 132.96.11.1

Ethernet Address:0:80:48:e3:d2:69

IP Pengirim: 132.96.11.2

Ethernet Address:0:80:ad:17:96:34

132.96.11.1 132.96.11.3 132.96.11.2

IP pengirim: 132.96.11.1

Ethernet Address:0:80:48:e3:d2:69

IP target: 132.96.11.2

Ethernet Address:0:80:ad:17:96:34

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Paket ARP request dari host B tersebut diterima oleh host A dan host A

kemudian menambahkan entri IP addresss host B beserta alamat Ethernet-nya ke

dalam cache ARP, lihat gambar 4.

Gambar Cache ARP setelah penambahan entri host B

Saat ini host A telah memiliki entri untuk host B di tabel cache ARP, dengan

demikian datagram IP yang semula dimasukkan ke dalam antrian dapat diberi

header Ethernet dan dikirim ke host B.

Secara ringkas proses ARP adalah:

1. Host mengirimkan paker ARP request dengan alamat broadcast Etehrnet.

2. Datagram IP yang dikirim dimasukkan ke dalam antrian.

3. Paket ARP respon diterima host dan host mengisi tabel ARP dengan entri

baru.

4. Datagram IP yang terletak dalam antrian diberi header Ethernet.

5. Host mengirimkan frame Ethernet ke jaringan.

Setiap data ARP yang diperoleh disimpan dalam tabel cache ARP dan cache

ini diburi umur. Setiap umur entri tersebut terlampaui, entri ARP dihapus dari tabel

dan untuk mengisi tabel. Jika host akan mengirimkan datagram ke host yang sudah

dihapus dari cache ARP, host kembali perlu melakukan langkah-langkah diatas.

Dengan cara ini dimungkinkan terjadinya perubahan isi cache ARP yang dapat

menunjukkan dinamika jaringan. Jika sebuat host di jaringan dimatikan, maka

selang beberapa saat kemudian entri ARP untuk host tersebut dihapus karena

kadaluarsa. Jika card ethernetnya diganti, maka beberapa saat kemudian entri ARP

host berubah dengan informasi alamat ethernet yang baru.

132.96.11.1

Alamat IP Alamat Ethernet

0:80:48:e3:d2:69

0:80:ad:17:96:34

132.96.11.1

132.96.11.2

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

_ Routing Information Protokol

Penjelasan

RIP kepanjangan dari Routing Information protocol. Pada setiap sistem unix

secara default sudah mendukung penggunaan RIP. Aplikasi RIP pada unix bernama

routed ( routing daemon ).

Cara Kerja

RIP bekerja dengan nilai metrik. Setiap router yang menjalankan RIP

membuat permintaan untuk update routing dari router atau host lainnya yang berada

satu network dengannya. Router yang mendengar adanya permintaan tadi akan

memberikan tabel routingnya kepada yang meminta. Update tabel routing tadi

memuat informasi alamat tujuan beserta metriknya. Sebagai contoh, untuk melihat

tabel routing pada unix , tinggal ketik perintah :

[radar] # netstat -nr

Routing tables

Internet:

Destination Gateway Flags Refs Use Netif Expire

default 167.205.48.33 UGSc 1 734 ed0

127.0.0.1 127.0.0.1 UH 1 734 lo0

167.205.48.32/27 link#1 UC 0 0 ed0

167.205.48.33 0:80:ad:b7:9c:87 UHLW 2 2 ed0

167.205.48.57 0:80:48:af:d5:e3 UHLW 1 10052 lo0

Routed secara periodik meminta request update routing. Hasil respon tadi,

sebelum dimasukkan ke dalam kernel table routing ( KRT ) diperiksa terlebih dahulu.

Apabila ada routing untuk ke alamat yang baru , yang belum ada sebelumnya, maka

routing tadi dimasukkan ke dalam KRT. Apabila ternyata tidak ada yang baru, maka

update tadi tidak dimasukkan. Lain halnya jika alamat yang sudah ada berubah

metriknya menjadi lebih kecil. Mengecilnya metrik membuat jalur rute yang lebih

pendek dan oleh karena itu diputuskan untuk dimasukkan ke dalam KRT.

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Metrik dalam RIP dapat dibayangkan sebagai jumlah hop untuk mencapat

sebuah alamat. Untuk lebih mudah membayangkannya, lihat skema network di

bawah ini.

Skema Jaringan

Router 1 memerlukan 1 hop untuk mencapat router 2 dalam artian router 1

dapat menjangkau router 2 secara lansung karena berada pada satu network yang

sama. Hal ini juga berlaku untuk router 2 dan 3.

Sedangkan untuk menuju router 3, router 1 memerlukan 2 hop. Pertama melewati

router 2 lalu sampai di tujuan, router 3. Demikian seterusnya. Jumlah hop ini dapat

dianalogikan dengan metrik.

Selain mengupdate KRT dengan routing yang baru, routed juga menghapus

tabel routing. Tabel yang dihapus karena dua sebab, yaitu :

mempunyai metrik lebih dari 15. metrik yang berharga 16 dianggap infinity, tidak

dapat dijangkau.

Tidak mendapatkan update yang semestinya dikirimkan secara periodik. Secara

deafult routed meminta update routing setaip 30 detik. Apabila waktu tersebut

terlampaui, maka alamat yang tadinya ada, namun tidak terupdate, akan dihapus

dari KRT. Seperti pada contoh di atas, apabila router 1 tidak memberikan respon

Subnet 14 Subnet 13

Subnet 15

Subnet 12

Subnet 10

Subnet 11

Router 1 Router 4

Router 2

Router 5

Router 3

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

kepada router 2, maka router 2 akan menghapus subnet 10 dari alamt tujuan di

KRT. Subnet 10 dianggap tidak dapat dijangkau.

Implementasi routed

Untuk menjalankan routed sederhana saja, tinggal ketik :

# routed

Option yang ada pada routed, seperti :

-s

memaksa routed untuk memberikan informasi routing. Routed secara otomatis

menjalankan option ini sewaktu ditemukan adanya 2 network interface atau lebih.

Dengan demikian, host ini menjadi router dengan di enable nya fungsi forwarding

pada kernel.

-q

Dengan option ini, host tidak memberikan informasi routing, melainkan hanya

menerima update saja. Host yang demikian bukanlah sebuah router.

Kelemahan RIP

Dalam implementasi RIP memang mudah untuk digunakan, namun RIP mempunyai

masalah serius pada Autonomous System yang besar, yaitu :

4.1 Terbatasnya diameter network

Telah disebutkan sedikit di atas bahwa RIP hanya bisa menerima metrik sampai

15. Lebih dari itu tujuan dianggap tidak terjangkau. Hal ini bisa menjadi masalah

pada network yang besar.

4.2 Konvergensi yang lambat

Untuk menghapus entry tabel routing yang bermasalah, RIP mempunyai metode

yang tidak efesien. Seperti pada contoh skema network di atas, misalkan subnet

10 bernilai 1 hop dari router 2 dan bernilai 2 hop dari router 3. Ini pada kondisi

bagus, namun apabila router 1 crash, maka subnet 3 akan dihapus dari tabel

routing kepunyaan router 2 sampai batas waktu 180 detik. Sementara itu, router 3

belum mengetahui bahwa subnet 3 tidak terjangkau, ia masih mempunyai tabel

routing yang lama yang menyatakan subnet 3 sejauh 2 hop ( yang melalui router

2 ). Waktu subnet 3 dihapus dari router 2, router 3 memberikan informasi ini

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

kepada router 2 dan router 2 melihat bahwa subnet 3 bisa dijangkau lewat router

3 dengan 3 hop ( 2 + 1 ).Karena ini adalah routing baru maka ia akan

memasukkannya ke dalam KRT. Berikutnya, router 2 akan mengupdate routing

table dan memberikannya kepada router 3 bahwa subnet 3 bernilai 3 hop. Router

3 menerima dan menambahkan 1 hop lagi menjadi 4. Lalu tabel routing diupdate

lagi dan router 2 meneriman informasi jalan menuju subnet 3 menjadi 5 hop.

Demikian seterusnya sampai nilainya lebih dari 30. Routing atas terus menerus

looping sampai nilainya lebih dari 30 hop.

4.3 Tidak bisa membedakan network masking lebih dari /24

RIP membaca ip address berdasarkan kepada kelas A, B dan C. Seperti kita

ketahui bahwa kelas C mempunyai masking 24 bit. Dan masking ini masih bisa

diperpanjang menjadi 25 bit, 26 bit dan seterusnya. RIP tidak dapat

membacanya bila lebih dari 24 bit. Ini adalah masalah besar, mengingat masking

yang lebih dari 24 bit banyak dipakai. Hal ini sudah dapat di atasi pada RIPv2.

_ OPEN SHORTEST PATH FIRST

Pendahuluan

OSPF merupakan interior routing protocol yang kepanjangan dari Open Shortest

Path First. OSPF di desain olrh IETF ( Internet Engineering Task Force ) yang pada

mulanya dikembangkan dari algoritma SPF ( shortest path first ). Hampir tidak

berbeda dengan IGRP ( Interior Gateway Routing Protocol ) pada tahun 80-an.

Pada awalnya RIP adalah routing protokol yang umum dipakai, namun ternyata

untuk AS yang besar, RIP sudah tidak memadai lagi.

OSPF diturunkan dari beberapa periset seperti Bolt, Beranek, Newmans. Protokol ini

bersifat open yang berarti dapat diadopsi oleh siapa pun. OSPF dipublikasikan pada

RFC nomor 1247.

Karakteristik Open Shortest Path First (OSPF):

. Menggunakan Algoritma link-state

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

. Membutuhkan waktu CPU dan memori yang besar

. Tidak menyebabkan routing loop

. Dapat membentuk heirarki routing menggunakan konsep area

. Cepat mengetahui perubahan pada jaringan

. Dapat menggunakan beberapa metrik

Cara Kerja OSPF

OSPF bekerja dengan link-state protocol yang memungkinkan untuk membentuk

tabel routing secara hirarki. Sebelum berlanjut ke dalamnya, perlu dijelaskan sedikit

istilah-istilah umum dalam OSPF, yaitu :

Area

Area yaitu letak dimana berada sebuah kumpulan network, router dan host

biasa. Area di sini bukan berarti area fisik.

Backbone

Backbone adalah area yang khusus dimana area-area saling terhubungkan.

Seluruh area yang ada, harus terhubung ke backbone.

Stub Area

Adalah area dimana hanya terdapat satu buah gateway / router, tidak ada

alternatif lainnya.

OSPF bekerja dengan membentuk sebuah peta network yang dipelajari

berdasarkan informasi dari router-router yang berada dalam neighbour. Peta

tersebut akan berpusat pada local host. Dari localhost host tersebut akan ada cost

untuk menuju network lain yang ditentukan dari hasil perhitungan.

Untuk memudahkan penggambarannya, mari kita bangun sebuah network imaginer

demikian :

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Gambar Skema Jaringan

Keterangan

Router 1 terhubung ke subnet 10 dan 11

Router 2 terhubung ke subnet 11 dan 12

Router 3 terhubung ke subnet 12 dan 15

Router 4 terhubung ke subnet 13 dan 15

Router 5 terhubung ke subnet 14 dan 15

Pertama-tama network diatas akan dibagi menjadi beberapa area, yaitu :

Area 1 : 10 ( stub area karena hanya mempunyai 1 router )

Area 2 : 11 dan 12

Area 3 : 13 , 14 dan 15

Dan masing-masing router mempunyai neighbour :

Router 1 mempunyai neighbour router 2

Router 2 mempunyai neighbour router 1 dan 3

Router 3 mempunyai neighbour router 2, 4 dan 5

Router 4 mempunyai neighbour router 3 dan 5

Router 5 mempunyai neighbour router 3 dan 4

Router 1 menggambarkan peta network seperti demikian :

Subnet 14 Subnet 13

Subnet 15

Subnet 12

Subnet 10

Subnet 11

Router 1 Router 4

Router 2

Router 5

Router 3

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Router 1

( 0 )

Router 5

( 40 )

Router 5

( 30 )

Router 4

( 30 )

Router 3

( 20 )

Router 2

( 10 )

Router 4

( 40 )

cost 10

cost 10

cost 10

cost 10 cost 10

cost 10 cost 10

Gambar Peta Jaringan

Sebagai localhost, router 1 bernilai 0. Lalu router 2 yang behubungan secara

direct dengan router 1 diberikan cost 10 ( 0 + 10 ). Lalu dari router 2 berhubungan

dengan router 3 yang bernilai 20 ( 0 + 10 + 10 ) dan pada akhirnya router 4 dan 5

bernilai 30.

Masing-masing link bernilai 10, yang berarti apabila link tersebut dilewati,

maka harganya harus ditambahkan 10. Seperti pada contoh router 2 yang bernilai

20 merupakan hasil pertambahan 0 + 10 + 10.

Lalu pada bagian paling bawah dari gambar, ada router 4 dan 5 yang bernilai

40. Hal ini disebabkan router 4 bisa berhubungan lansung dengan 5 tanpa melalui

router 3 dan itu akan menambah cost sebanyak 10 lagi. Demikian juga yang terjadi

pada router 5 yang bisa dicapai melalui router 4, tanpa router 3. Namun pada

akhirnya, cost terrendahlah yang dipilih dalam tabel routing. Yaitu yang bernilai 30

sedangkan 40 dibuang.

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

_ Membentuk Routing Table

Setiap host pada TCP/IP Network harus memiliki tabel routing agar dapat

menentukan jalan untuk mencapai tujuan dari paket-paket yang akan dikirimkannya.

Tabel routing secara otomatis akan terbentuk pada saat interface dikonfigurasi.

Tabel routing pada tahap ini adalah tabel routing minimal. Perhatikan gambar 3-4.

Untuk melihat tabel routing pada host dengan IP Address 167.205.20.3 ( Token

Ring ) dalam bentuk numerik, dipakai perintah berikut :

$ netstat -nr

Routing tables

Destination Gateway Flags Refcnt Use Interface

127.0.0.1 127.0.0.1 UH 1 105 lo0

167.205.20.0 167.205.20.3 U 35 3075 ed0

Bagian pertama dari tabel routing merupakan rute loopback ke localhost.

Setiap host TCP/IP akan memiliki rute ini. Bagian kedua merupakan rute ke network

167.205.20.0 melalui interface ed0. Network ini adalah network lokal. Address

167.205.20.3 bukanlah remote gateway, melainkan address yang telah di-assign

untuuk interface ed0. Perhatikan bahwa nomor network 167.205.20.0 muncul akibat

parameter mask pada waktu konfigurasi interface dengan subnetmask

255.255.255.0. Tanpa adanya subnetmask, network address yang muncul adalah

167.205.0.0 ( Standar kelas B ).

Option pada kolom Flag:

Flag U ( up ) menandakan interface telah siap dipakai.

Flag H ( host ) menandakan hanya satu host yang dapat dicapai melalui rute

ini. Berarti, rute ini hanya menuju ke host tertentu ( bedakan dengan rute ke

suatu network yang mungkin memiliki puluhan / ratusan host ). Kebanyakan

rute yang ada pada routing table menuju ke network, bukan ke host tertentu.

Hal ini untuk memperkecil ukuran routing table. Suatu instansi mungkin hanya

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

memiliki satu network, tetapi network tersebut mungkin terdiri dari ratusan

host. Mudah dimengerti bahwa jika seluruh IP Address dari host yang ada

pada network tujuan dimasukkan dalam routing table, ukurannya akan

membengkak dengan cepat. Cukup nomor networknya saja yang

dicantumkan karena telah mewakili nomor seluruh host pada network

tersebut.

Flag b _ alamat broadcast

Flag C _ rute sedang digunakan

Flag c _ sama seperti flag sebelumnya, tapi flag ini menunjuk ke protokol

yang spesifik

Flag G _ rute memerlukan gatway lagi

Flag S _ ditambah secara manual

Untuk akses ke network yang lain, network token ring di atas hanya memiliki satu

gateway, yakni yang ber-IP Address 167.205.20.11. Untuk itu, seluruh host yang

ada pada network token ring ( kecuali gateway ) dapat menambahkan default

routing sbb :

# route -n add default 167.205.20.11 1

add net default: gateway 167.205.20.11

Dengan perintah ini, rute ke seluruh network ( selain network lokal ) akan

ditempuh melalui gateway 1 (167.205.20.11). Option -n tidak harus digunakan.

Option tersebut hanya untuk menampilkan address secara numerik untuk

menghindari permintaan ke Name Server yang belum tentu bekerja. Metric 1 dipakai

sebagai metric terkecil untuk rute melalui gateway ekstenal, untuk memberikan

prioritas tertinggi pada rute ini. Jika kita periksa kembali routing table setelah

memasukkan default routing ini, akan muncul sbb :

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

$ netstat -nr

Routing tables

Destination Gateway Flags Refcnt Use Interface

127.0.0.1 127.0.0.1 UH 1 105 lo0

default 167.205.20.11 UG 0 0 ed0

167.205.20.0 167.205.20.3 U 35 3075 ed0

Pada routing table di atas terlihat adanya entri default routing. Flag G

menandakan rute default ini melalui eksternal gateway ( host 167.205.20.11 ).

Pada network Ethernet ( 167.205.22.0 ) ada 3 buah gateway. Untuk host-host pada

network ini, routing table dapat dibentuk secara statis. Misalkan kita berada pada

host 167.205.22.3. Network 167.205.20.0 dapat dicapai melalui gateway 1

(167.205.22.5), network 44.132.1.0 melalui gateway 2 (167.205.22.18) dan akses ke

network yang lebih besar, misalkan ke Internet Provider, dicapai melalui gateway 3

(167.205.22.20). Untuk itu, setelah routing minimal dapat ditambahkan perintah

routing sbb :

# route -n add 167.205.20.0 167.205.22.5 1

add net 167.205.20.0: gateway 167.205.22.5

# route -n add 44.132.1.0 167.205.22.18 1

add net 44.132.1.0: gateway 167.205.22.18

# route -n add default 167.205.22.20 1

add net default: gateway 167.205.22.20

Panduan Lengkap Membangun Server Menggunakan Linux SuSE 9.1

Routing table akan bertambah menjadi :

$ netstat -nr

Routing tables

Destination Gateway Flags Refcnt Use Interface

127.0.0.1 127.0.0.1 UH 1 105 lo0

167.205.22.0 167.205.22.3 U 28 9808 ed0

default 167.205.22.20 UG 0 0 ed0

167.205.20.0 167.205.22.5 UG 0 0 ed0

44.132.1.0 167.205.22.18 UG 0 0 ed0

Agar routing table terbentuk pada saat start up komputer, perlu di set routing

statis dengan beberapa modifikasi sbb :

Tambahkan static routing yang diinginkan sesuai konfigurasi network

Non-aktifkan semua perintah dari file startup yang menjalankan protokol routing.

Untuk host di atas, edit file rc.local untuk menambahkan statement route sbb:

route -n add default 167.205.22.20 1 > /dev/console

route -n add 167.205.20.0 167.205.22.5 1 > /dev/console

route -n add 44.132.1.0 167.205.22.18 1 > /dev/console

Startup file untuk setiap sistem mungkin saja berbeda, tetapi pada dasarnya

memiliki prosedur yang sama. Bacalah selalu dokumentasi dari sistem anda.